May 23, 2024
Tak Boleh Sembarangan, 8 Obat Ini Sebabkan Risiko Anemia Aplastik

JAKARTA – Healthcarewap.comAnemia aplastik merupakan penyakit setelah Comica Babe Kavita meninggal dunia dengan riwayat penyakit yang belakangan menarik perhatian. Kondisi ini menandakan adanya kelainan darah di mana sumsum tulang berhenti memproduksi sel darah. Artinya sumsum tulang sudah tidak mampu lagi memproduksi sebagian atau seluruh sel darah, termasuk sel darah merah dan putih.

Penyakit ini tergolong langka dan serius. Anemia aplastik dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penggunaan narkoba jangka panjang atau kronis. Hubungan keduanya sebenarnya sangat jarang, menurut Profesor Zuriz Ikawati dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Namun jika Anda mengonsumsi obat tersebut dalam jangka waktu lama, sebaiknya berhati-hati dengan tujuh jenis obat berikut ini.

Obat Chloramphenicol

Antibiotik ini pernah umum digunakan, tetapi penggunaannya sekarang dibatasi karena risiko serius termasuk anemia aplastik.

NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs)

Obat-obatan anti-inflamasi nonsteroid, seperti indomethacin dan fenylbutazon, bisa berisiko menimbulkan anemia aplastik, meskipun kasusnya jarang.

Sulfonamides

Kelompok antibiotik ini, termasuk sulfasalazine dan trimethoprim-sulfamethoxazole, juga telah dikaitkan dengan anemia aplastik.

Antikonvulsan

Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati epilepsi, seperti carbamazepine dan phenytoin, bisa menyebabkan anemia aplastik.

Obat tiroid

Seperti propylthiouracil dan methimazole yang digunakan untuk mengobati hipertiroidisme.

Obat sitotoksik dan kemoterapi

Obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi, seperti cyclophosphamide dan chlorambucil, memiliki risiko yang lebih tinggi menyebabkan anemia aplastik.

Obat antiretroviral

Dalam beberapa kasus, obat-obatan yang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS telah dilaporkan menyebabkan anemia aplastik.

Obat lain

Obat lain yang kurang umum tapi berpotensi menyebabkan anemia aplastik adalah gold compounds, yang digunakan dalam pengobatan artritis reumatoid, dan obat antiplatelet seperti ticlopidine.

” Tetapi sekali lagi, kejadian anemia aplastik akibat obat ini kejadiannya termasuk jarang. Pengawasan obat pasca pemasaran di Indonesia belum menjumpai laporan kejadian anemia aplastik akibat obat,” tegasnya.

Bila mengalami keluhan yang tak kunjung membaik meski telah meminum obat, Prof Zullies menyarankan untuk segera melakukan konsultasi lebih lanjut dengan profesional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *